Mau Prewedding? Pilih 0 km Sumedang!

Redaksi eRKS FM

 - 

Tuesday, 08 September 2020 - 16:32 WIB

Mau Prewedding? Pilih 0 km Sumedang!

Mau Prewedding? Pilih 0 km Sumedang! — 5 tahun yang lalu


eRKSNews -- Sumedang merupakan salah satu kabupaten yang dilintasi Jalan Raya Pos, De Grote Postweg yang terbentang dari Anyer-Panarukan sepanjangnya 1.000 km.

Jalan yang dibangun pada masa pemerintahan Gubernur-Jenderal Herman Willem Daendels ini selesai dibangun dalam waktu 1 tahun (1808).

Jalan pos yang melintasi Sumedang ini yang paling dikenang adalah saat pembangunannya menerobos hutan, meneratas pegunungan cadas, yang kita kenal dengan Cadas Pangeran.

Medan yang sangat berat, namun dikerjakan dengan peralatan sederhana. Tak heran, jumlah korban yang jatuh dan meninggal dunia sangat banyak. Sejarah mencatat ada 5.000 meninggal dunia.

Pembangunan jalan pos ini melahirkan kisah heroik Bupati Sumedang Pangeran Kusumadinaa IX atau Pangeran Kornel yang bersalaman dengan tangan kiri saat Daendels yang juga dikenal dengan Mas Galak melihat kondisi pembangunan jalan ke Sumedang.

Menurut Bupati Sumedang Donny Ahmad Munir, Daendles mengambil alih pembangunan jalan dengan melibatkan pasukan Zeni Belanda.

“Dulu, setiap jarak 30-40 km terdapat gardu pos untuk menggantikan kuda yang membawa kereta pos. Lama-kelamaan disekitar gardu pos terbentuk keramaian dan menjadi desa atau kota,” ujarnya.

Padahal, Kata Donny, sebelumnya lokasi gardu itu hanya tempat kandang kuda kereta pos. Sehingga pengiriman pos terus berjalan sampai tujuan.

Sekarang jika diperhatikan, jarak antara tiap kota sepanjang jalan pos ini berjarak sekitar 30-40 km.

“Tugu 0 km Sumedang dibangun dan berada di antara pusat pemerintahan Alun-alun Sumedang dan pusat ekonomi Sumedang, sebelah utara Sungai Cipeles,” paparnya.

Selanjutnya, sambung, titik nol ini merupakan acuan atau marka tanah untuk menentukan jarak dari satu kota ke kota lainnya, atau dari sebuah daerah ke daerah lainnya.

Umumnya, tepat di titik nol ini ditandai bangunan, tugu atau patok.

“Fungsi lain dari Titik 0 Kilometer adalah untuk memudahkan orientasi seseorang yang berada di dalam kota. Dulu, penomoran jalan juga berpatokan pada titik nol tersebut. Semakin dekat dengan tugu maka nomor jalan semakin kecil dan sebaliknya semakin jauh dengan tugu tersebut maka nomor jalan akan semakin besar. Dengan demikian, orang yang berada di tengah kota bisa melakukan orientasi,” katanya.

Dikatakannya, patok 0 km harus dijadikan sesuatu yang menarik dan menjadi salah satu ikon Sumedang.

Seperti juga bangunan lainnya di Sumedang, dan harus menjadi land mark seperti Lingga di tengah Alun-alun Sumedang.

” Pemkab Sumedang sudah mendeklarasikan diri sebagai kabupaten wisata. Semua tempat harus menjadi destinasi wisata," katanya.

"Semua orang yang pernah datang ke Sumedang bisa berfoto selfie  di tugu 0 km ini. Yang mau menikah melakukan prewedding di sini. Memulai mengarungi samudera rumah tangga bersama pasangan dari nol,” sebutnya.

"Untuk itu Pemkab Sumedang menata tugu 0 KM ini dengan membangun Monumen Tugu 0 KM yang saya resmikan hari ini," pungkasnya.
 

#Sumedang #Km #Titiknol #0 #Nol #Patoknol