Mantap! Prospek Pasar Batik Sumedang Kinclong Lagi — 5 tahun yang lalu
Sumedang tak hanya dikenal sebagai Kota Tahu, melainkan juga memiliki sentra produksi batik kasumedangan,yang berlokasi di Dusun Neglasari, Desa Sukamaju, Kecamatan Rancakalong, Sumedang.
Pemasaran batik kasumedangan ini sudah menasional, bahkan banyak dijadikan oleh-oleh khas Sumedang di wilayah Asia.
Di awal masa pandemi Covid-19, produksi batik yang merupakan bagian dari budaya tradisional ini nyaris collaps. Namun dengan menjalankan beberapa strategi jitu, batik kasumedangan ini berhasil bangkit dan kembali meraih pasarnya.
Dikatakan Penasihat Kelompok Bina Mandiri, Sutisna, sentra batik ini tak terlepas dari Kelompok Pembuat Batik Bina Mandiri.
“Kelompok ini berlokasi di Dusun Neglasari, Desa Sukamaju, Kecamatan Rancakalong, Sumedang, berdiri pada tahun 2018, dan berada di bawah binaan Nafira Batik,” katanya, Minggu (1/11/2020).
Menurutnya, berdirinya Bina Mandiri ini mengacu pada semangat “one village one product”, dan selaras dengan kewajiban pemerintah desa untuk mengembangkan perekonomian warga.
Binokasih dan Lingga Paling Laris di Pasaran
Menurut Ketua Ketua Kelompok Bina Mandiri, Rosdiawati, anggota Bina Mandiri saat ini terdiri dari 32 orang. Aktivitas mereka setiap hari adalah mengerjakan batik tulis. Manfaat positifnya sangat terasa.
“Para anggota yang awalnya tidak mengerti apa-apa tentang motif kain, kini sudah terampil membatik, cukup produktif, dan bisa mendapatkan penghasilan dari aktivitasnya itu. Bahkan pesanan atau order pun selalu ada,” ungkapnya.
Sedangkan varian batik tulisnya terdiri dari motif Tarawangsa, Mahkota Binokasih, Cangkok Wijaya Kusuma, Kuda Renggong, Jatigede, dan banyak lagi.
Dikatakannya, motif yang paling laris di pasaran adalah Binokasih dan Lingga.
Menggelar Lomba Desain Batik
Pada awal masa pandemi, pihaknya sempat khawatir karena baik pemasaran maupun produksi batik, mengalami penurunan sangat drastis. Bersama pembinanya, yakni Nafira Batik, pengurus Bina Mandiri berembuk untuk menemukan cara terbaik.
“Akhirnya ditempuhlah solusi kreatif, yakni melancarkan promosi lebih intens dan berinovasi dengan menggelar lomba desain batik. Dari hasil lomba itu, terpilih 10 desain terbaik yang kemudian diproduksi oleh para anggota Bina Mandiri,” paparnya.
Walau tidak langsung berdampak, namun upaya ini akhirnya membuahkan hasil. Peningkatan permintaan dan produksi perlahan-lahan pulih. Jenis-jenis batik kini semakin bertambah, dan semakin kaya pilihan.
Rosdiawati sangat bersyukur atas progres tersebut, dan berharap ke depannya apa yang diprogramkan oleh desa, yakni terbentuknya Kampung Batik, tercapai.
“Selain itu, ibu-ibu Desa Sukamaju, khususnya anggota Bina Mandiri, bisa memiliki penghasilan dari aktivitas membatik,” pungkasnya. (*)