DLHK: Sampah Warga Sumedang Bisa Capai 300 Ton/Hari — 5 tahun yang lalu
Bupati dan Wakil Bupati Sumedang menghadiri Pelatihan Pengelolaan Sampah Organik Biokonversi BSF yang digagas Dinas Lingkungan Hidup dan Kehuanan (DLHK) di Dusun Ciburial Desa Licin, Kecamatan Cimalaka, Kabupaten Sumedang, Sabtu (21/11/2020).
Narasumber dalam kegiatan ini adalah Wakil Bupati Sumedang H.Erwan Setiawan dan Prof. Agus Pakpahan juga Kadis DLHK Yosef.
Kabid Pengelolaan Sampah DLHK Sumedang, Tatang Muhidin mengatakan, pelatihan ini merupakan realisasi program Kabupaten Sumedang, khususnya DLHK dalam pengelolaan sampah.
“Jumlah penduduk di Kabupaten Sumedang sekitar 1 Juta Lebih menurut BPS, dan berdasarkan penelitian dari Kementerian, apabila setiap warga memiliki 0.3 kg sampah maka akan menghasilkan sampah 3 ratus ton Lebih,” paparnya.
Ia menuturkan, jika dihitung secara kubikasi, maka terdapat sekitar 6 ratus kubik, yang jika dipanjangkan mencapai jadi 6 ratus meteran.
“Gak kebayang menggunungnya itu sampah. Berdasarkan kebijakan Strategi Nasional pengelolaan sampah, hal ini diantisipasi oleh Perda dalam bentuk kebijakan strategi daerah (Jakstrada). Targetnya, tahun 2023 harus ada pengurangan sampah hingga 25 %,” ungkapnya.
Guna merealisasikannya, dendan menggunakan ‘jasa’ Maggot BSF, yakni sejenis lalat yang yang makanannya adalah sampah organik.
“Jenis sampah itu 70% organik, 15 % Plastik, dan 10% kardus,” katanya.
Saat ini, sebanyak 75 orang sedang dilatih budidaya maggot selama dua hari.
Wakil Bupati Sumedang Erwan Setiawan menyambut pelatihan biokonversi BSF ini.
“Pengelolaan Sampah dengan budidaya maggot BSF dapat menguntungkan, karena dari segi ekonomi memiliki nilai yang sangat menjanjikan,” katanya.
Bahkan, sisa maggotnya juga bisa jadi pupuk kompos dan bisa dijual.
Erwan juga mengimbau, sebelum dibuang, sebaiknya sampah dipilah dulu, dan jangan asal buang ke Jalanan apalagi ke sungai.
“Pemkab akan menyiapkan TPS, sehingga ke depannya bisa didaur ulang,” pungkasnya. (*)