Mempertahankan Produktivitas di Masa Pandemi — 5 tahun yang lalu
Merupakan fakta bahwa Pandemi Covid-19 berdampak pada lemahnya perekonomian, tak terkecuali pada masyarakat Sumedang. Daya beli warga melemah, aktivitas ekonomi dan dunia usaha pun menurun.
Namun, lemahnya dunia usaha bukan kondisi yang perlu ditakuti, karena hal itu bukanlah pertanda kehancuran, bahkan sebaliknya, merupakan hal biasa dalam dinamika ekonomi.
Berbekal semangat dan kreativitas, kondisi sulit akibat pandemi sebenarnya bisa dilewati.
Produksi camilan sistik atau mie kering pedas Ibu Rokayah, misalnya. Produksi camilan asal Kampung Sistik, Dusun Pangkalan, Desa Mulyamekar, Kecamatan Tanjungkerta, Sumedang ini, tetap berlangsung.
Bahkan, sejak awal masa pandemi hingga sekarang, pemilih usaha mie kering pedas Ibu Rokayah tidak pernah mem-PHK atau mengurangi karyawan. Jumlahnya tetap 30 orang.
Sebenarnya, usaha mie pedas ini tak terlepas dari fase jatuh bangun. Ada masa-masa sulit yang harus dilalui.
Di awal masa pandemi Covid-19, usaha ini sempat terpukul, karena penyerapan pasarnya menurun drastis.
Namun, dengan cara kreatif, seperti program bonus Jumat berkah dan berbagai pendekatan personal, kini penyerapan pasarnya bisa optimal kembali.
Hal yang sama terjadi pada sentra produksi batik kasumedangan, yang berlokasi di Dusun Neglasari, Desa Sukamaju, Kecamatan Rancakalong, Sumedang.
Di awal masa pandemi Covid-19, produksi batik yang merupakan bagian dari budaya tradisional ini nyaris collaps. Namun dengan menjalankan beberapa strategi jitu, batik kasumedangan ini berhasil bangkit dan kembali meraih pasarnya.
Maka, persoalan melemahnya perekomian bukan hal yang perlu dibesar-besarkan, seakan-akan tak ada lagi harapan bagi dunia usaha.
Selain itu, jatuh bangun saat menjalankan usaha merupakan hal biasa. Masa pandemi pun tak seharusnya jadi hambatan besar. Sebaliknya,kondisi itu harus jadi tantangan yang bernilai positif dan jadi bagian dari motivasi usaha. (*)